Gareta Horbou.
Setiap orang memiliki cerita kelahirannya masing-masing. Ada yang lahir di rumah sakit mewah dengan penanganan dokter spesialis, ada pula yang lahir di tengah keterbatasan. Kisah kelahiran saya adalah salah satu yang mungkin tidak banyak orang alami: saya lahir di atas pedati (gareta horbou) di tengah perjalanan Kampung Baru, Nagori Tongah menuju ibu kota kecamatan. Tanggalnya 14 Februari 1971—hari yang penuh cinta, sebagaimana makna Hari Kasih Sayang.
Namun, perjalanan hidup saya menyimpan kejutan lain bagi tanggal itu. Beberapa tahun kemudian, tanggal lahir saya secara resmi berubah menjadi 14 Juli 1970. Bukan karena saya terlahir dua kali, melainkan karena kebijakan seorang kepala sekolah saat memasuki masa sekolah dasar yang menginginkan muridnya cukup umur untuk bersekolah. Pernah saya menyesali akan hal itu, tetapi akhirnya kusadari kelahiran kembali dari dan oleh Roh-Nya, itu lebih penting.
Inilah kisah lengkapnya.
Tigarunggu, Kecamatan Purba di Tahun 1970-an
Untuk membayangkan suasana kelahiran saya, kita perlu memahami kondisi kampung halaman saya saat itu. Tigarunggu adalah ibu kota Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Letaknya di jalur Raya Pematangsiantar–Kabanjahe, sekitar 50 kilometer dari Pematangsiantar dan 22 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Simalungun di Pematangraya. Kampung saya adalah dari arah Tenggara menuju Tigarunggu.
Pada tahun 1971, fasilitas kesehatan di kampung saya masih sangat minim. Tidak ada dokter spesialis kandungan atau spesialis anak. Bahkan untuk sekadar menemui mantri atau bidan, kami harus menempuh perjalanan sejauh 6 kilometer ke ibu kota kecamatan. Baru enam tahun kemudian, ketika saya mulai masuk Sekolah Dasar, seorang bidan mulai bertugas di kampung kami.
Perjalanan Menuju Kelahiran

Hari itu, 14 Februari 1971, Emak (Ibu) saya menyadari bahwa waktu kelahiran saya telah tiba. Dengan segala keterbatasan yang ada, Ayah dan Emak memutuskan untuk segera membawa Emak ke ibu kota kecamatan Tigarunggu untuk mendapatkan pertolongan.
Namun, pada masa itu, tidak ada opelet atau mobil yang bisa kami tumpangi. Satu-satunya alat transportasi adalah pedati—yang dalam bahasa Simalungun disebut gareta horbou atau kereta kerbau.
Gareta horbo pada era 60-an hingga 70-an memiliki roda yang terbuat dari kayu dengan lapisan besi di luarnya. Perjalanan dengan gareta horbou bukanlah pengalaman yang nyaman—apalagi bagi seorang ibu yang sedang mengandung dan akan melahirkan. Generasi berikutnya roda gareta sudah ada yang beralih menggantinya dengan ban pompa.
Namun, perjalanan sejauh 6 kilometer itu ternyata tidak berhasil kami selesaikan.
Detik-Detik Kelahiran di Tengah Jalan
Setelah menempuh perjalanan sekitar 4 kilometer, sebelum sampai di Tigarunggu, saya memutuskan untuk lahir di tengah jalan.
Saya tidak pernah tahu persis bagaimana keriuhan, kegelisahan, dan kepanikan yang bercampur dengan kegirangan saat itu. Yang saya tahu hanyalah cerita yang diwariskan oleh kedua orang tua dan abang saya.
Di tengah kegentingan itu, Ayah saya mengambil pisau—mungkin belati—dan mengupas kulit bambu. Bambu itu lalu digunakan untuk memotong ari-ari saya. Setelah itu, ujung pusar saya diikat dengan rumbai kain (hiou atau ulos) agar cairan berhenti sampai pusar mengering.
Demikianlah, tanpa bantuan dokter atau bidan, saya lahir di atas gareta horbo di pinggir jalan menuju Tigarunggu.
Perjalanan Pulang yang Menyayat Hati
Setelah saya lahir, kami memutuskan untuk kembali ke kampung, tidak melanjutkan perjalanan ke Tigarunggu.
Namun, perjalanan pulang dengan gareta horbo terasa seperti siksaan bagi Emak saya yang baru saja melahirkan. Jalanan yang tidak rata, berlubang, dan berbatu—setiap hantaman roda pedati pasti mengguncang tubuh Emak yang sedang lemah.
Di tengah perjalanan itu, tak seorang pun menyadari bahwa ikatan rumbai kain di ujung pusar saya telah melonggar. Cairan keluar dan membasahi kain lampin yang membungkus tubuh mungil saya.
Saat itulah wajah bayi yang baru lahir ini—saya—mulai tampak pucat dan mengkhawatirkan.
Kemiri Emergency
Dalam kepanikan itu, Ayah saya mengambil beberapa butir kemiri. Beliau mengunyahnya sampai lumat halus, lalu memberikannya kepada saya untuk dimakan. Dilakukannya berulang kali, dan bayi kecil itu—saya—mau memakannya.
Perlahan, bayi yang pucat itu mulai pulih. Warna kemerahan kembali ke wajah saya.
Kemiri—buah yang biasa digunakan sebagai bumbu dapur—menjadi penyelamat hidup saya pada saat itu. Dalam keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan, kearifan lokal Ayah saya telah menolong nyawa saya.
Sejak saat itu, Tuhan selalu menyertai perjalanan hidup saya—sampai kini, di usia yang ke-55 tahun.
Perubahan Tanggal Lahir: Dari 14 Februari 1971 Menjadi 14 Juli 1970
Kisah yang tidak bisa dipisahkan, ada kisah yang mengubah tanggal lahir saya secara resmi.
Saat saya hendak masuk Sekolah Dasar Negeri/Inpres, kepala sekolah memiliki kebijakan bahwa minimal usia anak masuk sekolah adalah 7 tahun. Karena tanggal lahir saya yang sebenarnya—14 Februari 1971—membuat usia saya belum genap 7 tahun pada saat pendaftaran, beliau meminta izin kepada orang tua saya untuk menambahkan beberapa bulan usia saya.
Dengan demikian, secara de jure, tanggal lahir saya berubah menjadi 14 Juli 1970—meskipun secara de facto, saya lahir pada 14 Februari 1971.
Refleksi: Perjalanan yang Membentuk Karakter
Kisah kelahiran saya adalah pengingat akan betapa berharganya setiap nyawa dan betapa besarnya perjuangan orang tua di masa lalu.
Dari cerita ini, saya belajar beberapa hal:
- Ketahanan dalam keterbatasan—orang tua saya tidak menyerah meskipun tanpa fasilitas kesehatan yang memadai.
- Kearifan lokal—Ayah saya menggunakan kemiri dan bambu sebagai alat pertolongan pertama.
- Pengorbanan orang tua—terbayang betapa Emak saya menderita dalam perjalanan pulang dengan gareta horbo.
- Anugerah kehidupan—saya selamat dan terus diberkati sampai hari ini.
Penutup
Setiap tanggal 14 Februari—hari kasih sayang—saya selalu mengingat bahwa saya lahir di tengah cinta yang luar biasa. Cinta orang tua yang berjuang di tengah keterbatasan. Cinta Tuhan yang menyertai langkah saya.
Dan setiap tanggal 14 Juli—tanggal yang tertera di KTP saya—saya mengingat bahwa angka hanyalah formalitas. Yang terpenting adalah esensi dari perjalanan hidup yang telah Tuhan berikan. Kelahiran baru dengan dan oleh Roh-Nya itulah yang memberikan arti hidup yang sesungguhnya.
“Aku mengenal Engkau, dan Engkau pun mengenal aku. Di mana pun aku berada, Engkau selalu menyertai.”
Pesan untuk Pembaca
Kisah ini saya tulis sebagai kenang-kenangan untuk anak cucu dan inspirasi bagi siapa pun yang membaca. Setiap dari kita memiliki cerita kelahiran yang unik. Mungkin tidak sedramatis kisah ini, tetapi setiap kehidupan adalah mukjizat.
Bagaimana dengan kisah kelahiran Anda? Mari kita saling berbagi cerita—karena dari cerita-cerita kecil inilah sejarah besar keluarga kita terbangun.
Baca juga artikel menarik lainnya di www.darmanpurba.com
Ditulis oleh Darman Purba, lahir di atas pedati menuju Tigarunggu, 14 Februari 1971 (secara de jure: 14 Juli 1970).
